Berkembangnya Suatu Negara Tergantung Mind Set Dari Bangsanya

Berawal dari situasi dan kondisi yang selama ini terjadi di negeri ini, bahwa kita selalu dianggap masih terbelakang dibandingkan dengan negara lain. Telah banyak hasil pemikiran dari para pakar untuk berupaya meningkatkan dan mengembangkan demi kemajuan negeri ini, namun semua itu masih bersifat sementara atau untuk jangka waktu yang pendek dan lebih tepat lagi hanya bersifat tambal sulam yang akhirnya dapat menimbulkan gejolak di masyarakt luas yang tuntutannya sangat beragam. Sehingga siapapun yang menjadi pemimpin di negeri ini selalu dianggap salah karena masyarakatnya yang kurang diberikan pendidikan yang membentuk jati diri suatu bangsa. Jadi munculah pemikiran bahwa yang seharusnya diganti bukanlah pemimpinnya tapi rakyatnya. Hal ini bisa saja terjadi seperti jaman Nabi Nuh, dan sekarang pun sudah mulai terlihat dengan adanya berbagai bencana seperti Tsunami di Aceh dan beberapa daerah yang menghabiskan rakyatnya.

Dari Keadaan itulah terfikirlah oleh saya bahwa yang menjadi akar masalah adalah sebagai akibat dari sebagian besar pemikiran (mind set) masyarakat yang telah terkontaminasi oleh isu-isu lingkungan yang begitu gencar cenderung menumbuhkan emosi maupun nafsu sebagai manusia ke arah hal-hal yang menjerumuskan dirinya dan berdampak kepada tersendatnya perkembangan negeri ini. Disinilah peranan pendidikan dalam mewujudkan bangsa yang berfikir untuk bersama-sama memajukan negeri ini. Pada intinya bagaimana tehnik penyampaian yang tepat dari hasil pemikiran dalam mengembangkan suatu konsep untuk diamalkan kepada semua pihak yang terkait, karena sering sekali berhadapan dengan mahasiswa maupun masyarakat dan bahkan para pemimpin yang merasakan sulit untuk mengimplementasikannya.

Suatu pemikiran yang saya kemukakan bahwa kalau negara Indonesia ingin maju, harus membenahi pola pendidikan. Semestinya, bangsa kita belajar dari beberapa negara yang sudah maju, misalnya Amerika Serikat, Inggris, Jepang dan Korea Selatan. Kebanyakan negara maju adalah negara kerajaan, atau suatu negara dengan partai politik yang dominan, serta memiliki pemimpin yang berani mengambil kebijakan tentang pendidikan. Sebagai Contohnya: Korea, negara itu bagus dalam memotivasi masyarakatnya. Beberapa tahun lalu terjadi perang Korea, maka ditanamkanlah semangat militerisasi yang berlaku sampai sekarang untuk kaum muda yang berumur 20 tahunan baik Pria maupun Wanita, tak terkecuali orang biasa atau orang terkenal maupun pejabat harus ikut pendidikan wajib militer. Dalam pendidikan tersebut sudah mencakup pendidikan moral, mental, etika, tanggung jawab dan rasa bangga terhadap bangsa sendiri dan negaranya, mereka dididik secara mendalam untuk menghargai terhadap hasil karya bangsanya sendiri dan budaya yang dimiliki. Bagi mereka yang tidak mau ikut wajib militer, sangsinya jelas dan diterapkan secara konsisten, yaitu tidak bisa bekerja dimanapun, tidak boleh melanjutkan pendidikan ke Perguruan tinggi dan dilarang pergi ke luar negeri.

Di Indonesia pada saat itu sebenarnya sudah membuat konsep yang bagus mengenai semangat dalam berbangsa dan bernegara, yaitu melalui Penataran tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), hanya implementasinya keliru, yaitu: mereka diterima dulu sebagai calon PNS, baru kemudian diberikan penataran P4. Seharusnya sertifikat P4 sebagai salah satu persyaratan bagi masyarakat untuk bisa bekerja, atau melanjutkan kuliah atau keluar negeri.

Mengenai pendidikan moral, mental, etika, tanggung jawab dan rasa bangga terhadap bangsa sendiri dan negaranya, pada Program Magister Manajemen Unpad sudah kami berikan dan mereka juga diarahkan untuk menghargai terhadap hasil karya bangsanya sendiri dan budaya yang dimiliki. Namun masih terbatas pada pengetahuan dan wawasan saja karena memerlukan waktu yang secara khusus agar dapat diaplikasikan. Dalam pembelajaran juga pada Program MM diterapkan agara menghasilkan lulusan yang tidak tergantung dalam artian kemandirian dan ini telah dicakup dalam kurikulum konsentrasi entrepreneur and management bahwa untuk menjadi pengusaha yang sukses, hal pertama yang perlu diberikan justru bukan modal materi, tetapi tantangan. Calon entrepreneur sejati adalah yang berani menghadapi tantangan, ibaratnya ia mampu menjalani peluang yang hanya satu persen hingga berhasil. ā€¯Itulah yang disebut entrepreneur sejati.

Demikian sekilas yang dapat saya sampaikan, sebenarnya banyak temuan-temuan baru yang juga kami upayakan untuk diberikan dengan harapan dapat mengubah mind set untuk lebih dinamis lagi dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan yang sangat cepat.

Yuyus Suryana S