Etika dan Teknostres Dalam Perilaku Organisasi Masa Kini

“Antara teknologi dan etika perlu disandingkan sebagai dua sisi dari mata uang yang sama, untuk menghindari terjadinya technostress dalam organisasi, yang kesemuanya akan berdampak negatif bagi kesinambungan organisasi pada khususnya, dan degradasi moral masyarakat pada umumnya….”

faisal afiffDua faktor penting yang mempengaruhi perilaku organisasi saat ini adalah pengaruh etika dalam pengambilan keputusan dan dampak teknologi yang telah mengurangi sekaligus menambah hubungan stres dalam pekerjaan. Dewasa ini, etika telah memberikan dasar yang sedemikian penting bagi perilaku manusia, baik ke dalam maupun ke luar organisasi. Kepekaan etik telah menjadi sedemikian dominan dalam mempengaruhi tindakan, pikiran, dan keputusan seseorang. Tidak terkecuali dalam organisasi bisnis sekalipun, perilaku tidak etik sama seperti tindakan ilegal, yang dapat memperumit suatu pengambilan keputusan. Pada saat yang sama, dalam dunia bisnis saat ini, organisasi senantiasa harus mengikuti perubahan teknologi agar tetap kompetitif dan berkembang. Namun seiring dengan hal itu, perubahan yang cepat dari teknologi juga dapat berdampak negatif, khususnya dalam menciptakan suasana stres dalam pekerjaan.

Perdebatan etikal yang dihadapi kalangan bisnis saat ini adalah pertanyaan diseputar apakah keputusan dan tindakan yang diambilnya sudah bersifat legal, adil, dan bermanfaat bagi para pekerja sebagai pihak yang mematuhi keputusan yang melekat pada organisasinya. Menentukan standar etika yang dapat diterapkan bagi kehidupan kolektif dalam suatu kerjasama bukanlah tugas yang mudah, terutama jika para pengambil keputusan ingin dipandang bahwa keputusannya bersifat adil, melegakan dan jujur. Tentu saja terdapat pengaruh sosial-budaya dan ekonomi serta etnik yang perlu dipertimbangkan. Oleh karena itu para pengambil keputusan pada organisasi bisnis saat ini dituntut untuk mengembangkan daya empatik, yaitu suatu kemampuan untuk membayangkan diri sendiri dalam situasi orang lain, sehingga keputusannya benar-benar dianggap etikal. Paling tidak memiliki kemampuan “empati kognitif ” yang secara signifikan berkaitan langsung dengan evaluasi rasional berbasis motif dan prinsip moral. Sejumlah penelitian telah dilakukan yang mengarah pada fakta bahwa perilaku atasan dan rekan-kerja memiliki pengaruh paling signifikan pada perilaku etik atau tidak etik, sehingga menjadi penting bahwa para pekerja dalam suatu organisasi yang menempati posisi kepemimpinan merupakan orang pertama yang sebaiknya memberikan contoh yang baik bagi rekan kerja yang lain untuk diteladani.

Dari sisi kemajuan teknologi, agaknya sangat sedikit organisasi yang tidak menyadari pentingnya pengaruh persaingan dalam kemajuan teknologi, yakni dengan teknologi baru suatu produk lama akan menjadi lebih baik, yang akan menyebabkan permintaan dan profitabilitas dari produk lama menjadi menurun, sehingga tanpa memanfaatkan kemajuan teknologi baru suatu organisasi akan lenyap ditelan persaingan. Situasi ini telah menciptakan pedang bermata dua bagi banyak organisasi, bukan hanya organisasi saja yang akan merasa tertekan , namun tekanan yang meluas akan terasa di seluruh lini organisasi sampai ke tingkat individual para pekerja. Mengikuti perubahan teknologi saat ini bagaikan memakan buah simalakama, yakni “ikuti atau mati “, sehingga hal ini membawa beban stres yang berat bagi organisasi. Padahal tingkat stres yang berat dalam jangka waktu lama tidak menguntungkan bagi para pekerja, dan tentunya bagi organisasi secara keseluruhan. Stres dapat menyebabkan segudang sindrom yang tidak hanya akan mempengaruhi kesehatan mental para pekerja semata, akan tetapi juga dapat mempengaruhi kesehatan fisiknya. Tanggung jawab untuk mengurangi stres ini tidak hanya berada pada pundak para pekerja saja, akan tetapi jug berada dipundak para pimpinan organisasi. Guna menghindari konsekuensi dari stres yang berkepanjangan yang akan berpengaruh juga pada penurunan produktivitas, kemangkiran yang meningkat, moral-hazard, dan meningkatnya tarif premi asuransi, maka organisasi harus melakukan segala sesuatu dalam kemampuannya untuk memastikan bahwa para pekerja telah terlatih dan siap dengan teknologi baru sekaligus memiliki akses informasi yang luas tentang bagaimana mengurangi stres yang meningkat. Dengan cara ini, paling tidak suatu organisasi dapat menciptakan suasana yang kondusif bagi kebahagiaan, ketenangan, kegairahan dan tingkat dedikasi para pekerja .

Terdapat beberapa hal yang tidak selalu berada dalam kendali organisasi, terutama menyangkut dampak dari keputusan etik dan diterapkannya teknologi baru terhadap perilaku organisasi. Organisasi juga harus ikut memperhatikan dampak dari tekanan pekerjaan tersebut terhadap kehidupan keluarga para pekerja, kepuasan pribadi, pertumbuhan, dan makna yang dianggap berharga bagi kehidupannya. Adalah penting bahwa organisasi menempatkan pemimpin yang bertanggung jawab yang tidak hanya pandai dalam memberikan inspirasi, akan tetapi juga pandai dalam hal memberikan contoh. Sangat penting juga disadari oleh organisasi bahwa para pekerjanya bukanlah mahluk tanpa wajah, benda mati yang hanya merupakan bagian saja dari mesin, mereka adalah manusia hidup yang memiliki makna dan nilai kehidupan, yang kesemuanya tidak boleh terancam oleh suatu perubahan apapun. Sekelompok orang bisa menjadi tim berkinerja tinggi, apabila secara individual mereka dihargai dan mendapat apresiasi dengan baik. Dewasa ini, suatu tim kerja dapat terdiri dari beragam ras, budaya, jenis kelamin, etika, agama, kepribadian, dan perilaku.

Setiap anggota tim dapat mengkolaborasikan keterampilan mereka untuk mencapai tujuan bersama, dimana tugas tim berkinerja tinggi memiliki nilai-nilai inti, tujuan kinerja yang jelas, keterampilan yang tepat, dan beragam kreativitas. Suatu sistem terbuka, faktor input tim kerja, dinamika kelompok, dan dinamika antar kelompok merupakan sumber yang dapat membantu tim kerja untuk menjadi tim yang berkinerja tinggi. Suatu tim yang berkinerja tinggi dapat mencapai produktivitas yang lebih efektif dan efisien ketika mereka berkolaborasi dalam suatu sistem yang terbuka. Sistem terbuka yang demikian akan memungkinkan semua anggota tim untuk meningkatkan kreativitas mereka bagi keberhasilan tim kerja. Dalam sistem yang terbuka, masukan terhadap tim kerja muncul dari brainstorming, dan munculnya ide-ide dari anggota tim kerja untuk menyelesaikan dan menyempurnakan tugas. Dinamika kelompok merupakan salah satu cara bagi para anggota tim kerja untuk berinteraksi dan mendapatkan penyelesaian tugas dengan sukses.
Dinamika antar kelompok adalah energi dan keterampilan dalam setiap individu yang membantu tim kerja dapat berfungsi sebagai sebuah tim yang solid. Terdapat beberapa kelemahan pada suatu tim kerja, seperti terjadinya kompetisi antar kelompok, kesulitan dalam interaksi, latar belakang beragam demografis, dan kurangnya komunikasi. Ketika antara anggota tim bersaing satu dengan yang lainnya, produktivitas dapat menurun akibat mereka kurang bersedia bekerja sama. Beberapa anggota mungkin memiliki kesulitan dalam berinteraksi atau bekerja sama, yang dapat menyebabkan konflik dalam pengaturan tim kerja. Kebingungan dapat menghambat perkembangan kerja sama tim. Beragam latar belakang demografi adakalanya dapat menghalangi tim kerja bekerjasama, meskipun terdapat cara lain untuk berkomunikasi melalui konferensi telepon, chatting internet ataupun email. Kurangnya komunikasi dan interaksi dapat menyebabkan konflik antara anggota tim, yang dapat memperlambat produktivitas kerja. Suatu team building dapat membantu meningkatkan kinerja tim dengan mengevaluasi kinerja tim tersebut dan menerapkan saran perbaikan.

Team building dapat membantu para anggota tim untuk bekerja sama dalam mengelola konflik tim kerja, memecahkan masalah, dan mengatasi interaksi yang sulit. Suatu anggota tim kerja yang bernilai tinggi memiliki kecenderungan untuk setia kepada kelompok dan mengindahkan norma atau kode etik kelompok. Harus diakui, terdapat dampak dari karakteristik demografi terhadap perilaku tim kerja yang dapat mencegah para anggota tim kerja untuk berinteraksi, sehingga dapat mengganggu konsentrasi anggota tim kerja menuju tim yang berkinerja tinggi. Keragaman di tempat kerja akan membedakan karakteristik individu antara satu individu dengan yang lainnya. Karakteristik demografi seperti etnis, jenis kelamin, ras, dan usia, dapat membantu untuk mengembangkan tingkat toleransi dan fleksibilitas individual. Karakteristik ini dapat berfungsi sebagai dasar stereotipe bahwa terdapat perbedaan individual yang jelas yang harus diterima sebagai sebuah kenyataan, sehingga mencegah orang untuk berlaku diskriminatif dan lebih berorientasi pada potensi kinerja mereka. Dengan demikian, dampak dari karakteristik demografi dapat mendorong anggota tim kerja untuk berinteraksi, dan dapat berkontribusi dengan kinerja yang tinggi. Beberapa tim kerja yang memiliki beragam karakteristik demografi dapat belajar menghargai perspektif masing-masing anggota tim kerja, dan mampu berbagi tugas bagi kepentingan organisasi secara umum.

Begitu pula, terdapat dampak positif dari keragaman budaya terhadap perilaku tim kerja, yaitu adanya kontribusi kreativitas untuk tim dengan kinerja yang tinggi. Adanya keragaman keanggotaan tim kerja akan menawarkan kolam yang kaya akan informasi, bakat, dan perspektif beragam yang dapat membantu meningkatkan pemecahan masalah tim kerja dan meningkatkan kreativitas. Pendeknya, keragaman budaya dapat berkontribusi positif terhadap tim kerja dan dinamika yang terjadi didalam tim kerja itu sendiri. Keaneka-ragaman budaya dapat mengembangkan sebuah tim kerja berkinerja tinggi yang memungkinkan potensi beragam dari suatu tim bersinergi menjadi sesuatu kekuatan tim kerja. Sementara dampak negatif dari keanekaragaman budaya terhadap perilaku tim kerja adalah adanya berbagai potensi konflik diantara anggota tim kerja.

Interaksi yang saling bertentangan dapat membatasi atau mengurangi efektivitas dan efisiensi atau produktivitas. Diperlukan adanya kesadaran bersama tentang nilai-nilai, etika dan budaya yang beragam untuk mencegah konflik ini.

Terdapat lima tahap perkembangan kelompok, tahap pertama adalah tahap awal pembentukan tim kerja, yang merupakan tahap dimana masing-masing orang memiliki masalah dan datang bersama-sama serta beradaptasi dengan membawa perilaku masing-masing. Pada tahap pembentukan, suatu tim kerja akan mengalami masalah dalam mengelola masing-masing individu yang baru masuk menjadi anggota tim. Tahap kedua adalah tahap “badai”, dimana konflik terjadi diantara anggota tim kerja, dalam hal ini suatu tim kerja memiliki masalah yang berhubungan dengan keberagaman perilaku. Pada tahap “badai” ini, suatu tim kerja memiliki masalah dalam hal mengelola ekspektasi dan status dari para anggota tim. Tahap ketiga adalah tahap pembentukan norma, yang sering juga disebut sebagai tahap kolaborasi di mana para anggota tim mulai bersedia bekerja sama dalam suatu kesatuan sebagai sebuah tim kerja.
Pada tahap awal pembentukan norma, suatu tim kerja akan mengalami masalah berkenaan dengan mengelola pola hubungan dan tugas anggota tim kerja. Tahap keempat adalah tahap performasi, dimana para anggota tim kerja bergabung bersama-sama dalam suatu tim yang berfungsi sebagai tim kerja yang produktif. Pada tahap integrasi performasi secara keseluruhan, suatu tim kerja akan menemukan masalah pengelolaan perbaikan dan pembaharuan diri yang terus-menerus. Tahap kelima, adalah tahap “bebas tugas” dimana tugas tim kerja perlu disempurnakan dan anggota tim kerja bersedia untuk bekerja sama di masa depan. Pada tahap “bebas tugas”, tim kerja biasanya mengalami masalah pengelolaan penyelesaian tugas pada saat proses berakhirnya tugas suatu tim kerja.

Globalisasi telah mempengaruhi perkembangan suatu organisasi, sehingga terdapat kebutuhan untuk memahami perbedaan antar-budaya secara lebih dalam. Mengharapkan suatu kinerja tinggi di tempat kerja akan menuntut suatu pemahaman terhadap perilaku manusia dengan latar belakang budaya masing-masing, dan sekaligus mampu berinteraksi dengan baik terhadap beragam budaya, ras, jenis kelamin, etika dan agama. Suatu kelompok atau tim kerja dapat bekerja secara efektif dan efisien dengan berbekal pengetahuan tentang masing-masing kelompok etnik. Pengaturan etik dan dukungan yang tepat dari organisasi terhadap aspek keanekaragaman budaya ini dapat memenuhi kebutuhan akan terbentuknya suatu tim berkinerja tinggi.

Dewasa ini aktivitas pemasaran dalam memperluas pelayanan pasar telah sangat terbantu oleh teknologi yang tumbuh dengan cepat. Semakin para pekerja menggunakan teknologi tersebut, maka mereka akan semakin tergantung dan dimanjakan. Pada glirannya mereka akan terus menunggu misteri produk terbaru dari teknologi yang paling modern. Dengan sendirinya, semua orang akan selalu tertarik menunggu lahirnya suatu kreasi dan inovasi terbaru, dan tentunya tidak sabar ingin segera mengkonsumsinya. Bagaimana cara organisasi bisnis mengintegrasikan praktik bisnis mereka dengan negara-negara lain telah berubah secara radikal. Terutama perubahan yang terjadi di semua aspek dari rantai pasokan, serta praktek outsourcing yang bisa melibatkan tenaga kerja dari 25 negara sekaligus dalam suatu produksi. Menurut Thomas Friedman, bahwa suatu negara tidak akan lagi pergi berperang antara satu negara dengan negara lainnya, selama mereka terkait erat dengan rantai pasokan antar organisasi diantara negara mereka. Tentu saja globalisme memiliki konsekuensi negatif terhadap sebagian bisnis berskala kecil yang hanya mengandalkan modal intelektual atau keuangan terbatas, namun ingin menghasilkan barang dengan biaya lebih rendah melalui outsourcing, sementara perusahaan yang sangat terkapitalisasi dapat membayar biaya yang tinggi agar dapat menggandeng mitra yang dapat dipercaya dan aman dari luar negeri, sementara bagi bisnis berskala kecil hal demikian mustahil dilakukan.

Dengan demikian para pemimpin seyogyanya tetap peduli tentang bagaimana etika mempengaruhi proses pengambilan keputusan dan bagaimana stres yang berhubungan dengan pekerjaan dapat dipengaruhi oleh teknologi . Etika dalam bisnis bukanlah masalah baru. Pada tahun 1550, Charles V dari Spanyol sempat merenungkan tentang status penduduk pribumi yang ditemukan di “dunia baru” . Pertanyaan yang menggelitiknya adalah, haruskah para penduduk pribumi tersebut diberi status budak atau status yang lebih tinggi ? Dewasa ini, organisasi masih dipengaruhi oleh etika dan kebutuhan untuk menyadari harapan etik, dan konsekuensi bahwa kurangnya etika dapat menyebabkan kemerosotan moral dalam dunia bisnis. Keprihatinan lain bagi para pemimpin adalah bagaimana teknologi dapat menimbulkan stres dalam pekerjaan yang dikenal sebagai technostress. Kedua faktor tersebut – yakni etika dan teknologi – merupakan faktor dominan yang dapat mempengaruhi perilaku para pekerja, manajer, pelanggan dan karenanya akan berdampak pada bagaimana organisasi beroperasi, meraup keuntungan, tepat waktu, dan mencapai tujuan.
Dengan perkataan lain, keputusan para pemimpin akan mempengaruhi organisasi secara internal dan eksternal. Itulah sebabnya banyak organisasi telah mengembangkan dan mengadopsi kode etik bagi semua para pekerja untuk mengikuti , terutama bagi level manajer , agar mengikuti pelatihan wajib tahunan dalam bidang ini. Semakin disadari oleh para pelaku bisnis, bahwa keputusan berwawasan etikal akan semakin memainkan peran yang sangat penting dalam suatu organisasi masa depan. Etika adalah konsep tentang perilaku baik dan buruk, atau benar dan salah. Perilaku etik dapat diatur oleh negara dan wilayah hukum setempat.

Hal ini penting bagi suatu organisasi untuk mempromosikan pilihan moral yang baik dan melakukan segala daya untuk mencegah perilaku yang tidak etik di tempat kerja. Namun, ketika para pengambil keputusan tengah berusaha menuju keputusan dan tindakan yang bertanggung jawab secara moral, mereka sering dihadapkan dengan banyak hambatan. Yang paling utama dan paling penting adalah adanya varietas luas yang harus diakomodir berkenaan dengan norma-norma moral dan nilai-nilai di antara orang-orang yang terlibat. Berdasarkan pengalaman, penilaian tentang benar dan salah didasarkan pada banyak teori, misalnya teori tentang deontologis, teleologis, dan orientasi nilai, yang kadang-kadang saling bertentangan. Dalam kenyataannya, sering muncul masalah potensial tentang keputusan yang didasarkan pada norma-norma dan nilai-nilai , khususnya ketika terdapat beberapa orang yang harus memberikan penilaian tentang suatu keputusan dan tindakan. Bahkan ketika semua orang yang yang terlibat memiliki kaidah moral dan nilai-nilai yang sama , seringkali sulit untuk menentukan keputusan yang adil dan bertanggung jawab dalam situasi tertentu. Dilema moral seringkali tidak selalu dihadapkan pada bagaimana membuat pilihan antara benar dan salah , akan tetapi juga tentang antara yang benar dan yang benar atau yang salah dan yang salah. Misalnya ketika seorang manajer harus berurusan dengan kerugian finansial yang besar, terdapat berbagai pilihan antara merumahkan sebagian para pekerja yang loyal , mengurangi gaji semua para pekerja, atau memaksa pelanggan untuk membeli produk barang dengan harga yang tinggi. Cara terbaik untuk menghadapi dilema seperti ini adalah mendamaikan semua nilai yang berbeda, yaitu dengan tetap ” meraih keuntungan ” , ” tidak merugikan para pekerja ” , ” tidak mengurangi gaji ” dan “tidak memanipulasi para pelanggan ” , dan tentunya hal ini lebih mudah untuk dikatakan daripada dipraktekkan.

Dengan demikian, berurusan dengan dilema moral adalah bidang etika yang disebut dengan etika terapan. Dalam bidang ini, maka fokusnya adalah pada keputusan atau tindakan nyata dimana keadaan dan situasi tertentu akan memainkan peran penting dalam proses menentukan pilihan keputusan terbaik. Apa yang dievaluasi sebagai adil dalam satu situasi dapat dinilai sebagai tidak adil dalam situasi yang lain. Misalnya mengurangi pendapatan seseorang mungkin dianggap sebagai tidak adil ketika tidak ada penyebab khusus, namun dalam situasi perundingan dan pembahasan yang kooperatif-konstruktif seorang pekerja mungkin saja mengakui secara jujur bahwa selama ini dia kurang menunjukkan dedikasi, sehingga dilakukannya penurunan proporsional terhadap pendapatannya akan dirasakan adil dalam pandangan hampir semua orang . Dengan demikian terdapat pilihan terbuka untuk mengambil keputusan, yang turut ditentukan oleh konteks seperti faktor hukum , sumber daya yang tersedia , pedoman resmi untuk pengambilan keputusan, yang kesemuanya perlu dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan. Kendala lain untuk memperjuangkan tindakan yang bertanggung jawab adalah adanya faktor keterbatasan informasi yang tersedia dan membawa konsekuensi terhadap suatu keputusan. Konsekuensi ini merupakan faktor yang sangat penting dalam menilai apakah keputusan itu benar atau salah.

Perilaku tidak etik di tempat kerja dapat merugikan organisasi dengan risiko yang mahal serta dapat merusak hubungan baik yang telah terjalin diantara rekan bisnis . Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku etikal. Salah satu diantaranya berkisar dari keragaman tenaga kerja dan teknologi yang digunakan untuk mencapai kualitas produk yang dihasilkan oleh suatu organisasi. Suatu keanekaragaman dapat menjadi masalah ketika seorang pemimpin menggunakan bias personal kedalam keputusan organisasi. Teknologi bisa menjadi masalah ketika fasilitas pelatihan yang tepat tidak disediakan bagi para pekerja dalam suatu organisasi. Adanya fakta bahwa ternyata para pekerja tidak terlatih dengan baik akan membuat mereka lebih mungkin melakukan kesalahan atau tidak mampu menjalankan tugas pekerjaan dengan baik dan benar. Kualitas dapat menjadi masalah ketika sebuah organisasi tidak memberikan terhadap para pekerjanya suatu alat yang diperlukan untuk menyediakan suatu produk tertentu untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan mereka. Para pekerja bisa saja terpaksa membuat keputusan yang menyimpang dari prosedur dalam rangka menghasilkan kualitas produk yang dibutuhkan, sehingga keputusannya tersebut berpengaruh terhadap perilaku etik dan gangguan sistem. Pada akhirnya, suatu organisasi dapat mempengaruhi perilaku etik para pekerja mereka. Salah satu cara yang dapat ditempuh adalah menawarkan beberapa jenis “penghargaan” bagi perilaku yang didefinisikan dan identik sebagai etika, yang akan memberikan alasan bagi para pekerja untuk terus menunjukkan perilaku organisasi yang dianggap ” benar” dan diinginkan oleh organisasi dan stakeholders.

Hal ini juga dapat dicapai melalui pelatihan yang berkesinambungan dan penguatan perilaku etik yang diinginkan. Last but not least, teknologi dalam suatu organisasi bukanlah faktor yang bebas nilai, apalagi jika penerapannya menyentuh kepentingan manusia dan orang banyak. Dalam kaitan ini, penerapan teknologi dalam suatu organisasi perlu dibarengi oleh kaidah-kaidah etika terapan. Dengan kata lain, antara teknologi dan etika perlu disandingkan sebagai dua sisi dari mata uang yang sama, untuk menghindari terjadinya technostress dalam organisasi, yang kesemuanya akan berdampak negatif bagi kesinambungan organisasi pada khususnya, dan degradasi moral masyarakat pada umumnya. Dalam abad teknologi yang tengah kita jalani pada saat ini, karenanya penerapan dari kaidah-kaidah etika tersebut perlu mendapat perhatian yang luar biasa, jika abad ini tidak ingin menjadi abad bencana moral kemanusiaan atau kepunahan.