Integritas Dan Kepemimpinan Inovatif

“Pandanglah bintang-bintang di langit, tetapi jangan pernah melupakan  keberadaan berbagai bunga di bumi tempat kita berpijak” (Agnew Meek – Vice President 3M Company)

 

Secercah hikmah kerlipan  Iedul Fitri dalam membangun karakter  kepemimpinan  rekan-rekan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran tercinta.

 

Terdapat tiga faktor utama yang dapat membentuk karakter kepemimpinan, yakni kreatifitas, energi dan wawasan filosofis. Perpaduan dari ketiga faktor tersebut dapat membangkitkan daya antusiasme pada diri pemimpin, sehingga ia senantiasa bergerak dinamis dan adaptif. Enthusiasm berasal dari akar kata bahasa Yunani entheos yang berarti “dari roh yang bersemayam di dalam”. Antusiasme dalam kepemimpinan sering juga diartikan sebagai  daya adaptabilitas – kemampuan untuk menyesuaikan diri – terhadap perubahan situasi dan kondisi, regulasi dan tuntutan lainnya. Kendati banyak situasi dan kondisi yang tidak dapat dikendalikan sepenuhnya, pemimpin dengan penuh antusiasme memiliki kepandaian untuk mengubah  dan menemukan cara-cara baru, sehingga keputusan yang diambilnya berjalan efektif dan efisien ketika mengatasi berbagai persoalan. Daya adaptabilitas inilah yang membentuk ketangguhan, karakter, dan integritas kepemimpinan, yakni suatu sikap yang tidak mudah menyerah, teguh dan loyal pada prinsip, namun fleksibel  dan senantiasa mencari terobosan dalam menghadapi berbagai rintangan.

Rintangan merupakan suatu persoalan  yang tak terelakkan dalam suatu organisasi, terutama saat pemimpin akan mulai melakukan inovasi. Rintangan sering menghambat akselerasi terhadap perubahan, dan oleh karena itu untuk menghadapinya diperlukan  waktu dan energi. Rintangan sering menghadang ditengah-tengah laju kreatifitas dan terkadang menghentikan ide kreatif untuk melaksanakan inovasi dalam organisasi.   Terdapat dua rintangan yang biasanya kita temui, yakni: pertama, rintangan yang menghambat secara individual, sehingga seseorang terpengaruh dan terhenti kreatifitasnya. Kedua, rintangan yang mempengaruhi organisasi sehingga terhenti menjadi organisasi yang inovatif.

Terdapat perbedaan mendasar antara kreasi dan inovasi. Kreasi lebih merupakan ide yang dihasilkan dari seorang individu (finding about newness), sedangkan  inovasi  melibatkan lebih dari satu individu atau bersifat kelompok (implementing about newness). Ide berasal dari individu yang kreatif sebagai masukan untuk dapat dilakukannya inovasi,. Bagi seorang pemimpin yang tangguh dan penuh antusiasme, rintangan atau tantangan sesulit apapun – dari sudut pandang falsafahnya – dimaknai sebagai “laboratorium-hidup” untuk belajar secara langsung bagaimana menghadapi kesusahan, ketidak-nyamanan dan guncangan sebagai ujian terhadap ketangguhan kepribadian dan karakter dirinya, baik ketika pemimpin berhadapan dengan masyarakat umum atau ketika merenung sendirian. Seorang pemimpin akan menyadari sepenuhnya, bahwa keberhasilan organisasi di masa depan akan sangat ditentukan oleh kepemimpinannya, terutama dalam mengoptimalkan berbagai peluang, dengan senantiasa mendorong seluruh anggota organisasi untuk berpikir ke depan, dengan menumbuh-kembangkan kreatifitas dan inovasi.

Marilah kita menengok masa renaissance di Eropa Barat sekitar abad 14-16 M, dimana masa sebelumnya dunia barat dianggap sedang mengalami masa kegelapan (dark age) dan ketertinggalan dari dunia timur.  Tiba-tiba masyarakat disadarkan akan kedaulatan, otonomi, dan kebebasan untuk melakukan sesuatu, yang tentunya dipicu oleh para inspiratornya. Pada saat itu masyarakat menganggap adanya kewenangan dan otoritas yang terlalu kuat dari pihak institusi agama untuk mendominasi kebenaran pada berbagai disiplin ilmu dan sendi-sendi kehidupan lainnya. Karenanya gerakan “kelahiran-kembali” ditujukan untuk merealisasikan apa yang pernah hidup pada zaman Yunani Kuno, yaitu titik-tolak kebebasan-berpikir yang bersumber pada manusia.

Pada belahan dunia manapun ketika kekuasaan totalitarian dan dogmatisme telah jauh menjalar ke dalam sendi-sendi kehidupan tatanan masyarakat dan melembaga menjadi norma-aturan dan hukum yang membelenggu, secara dialektis akan menimbulkan  perlawanan dan tuntutan akan perubahan. Begitu juga yang terjadi di masa renaissance, faham teosentris begeser menjadi antroposentris, dengan paradigma baru yang menitik-beratkan pada pemikiran, pengembangan ilmu, dan peradaban manusia sebagai pusatnya. Melalui dialektika sejarah seperti itulah, terjadi perubahan asasi di dunia barat dengan tumbuh-suburnya pemikiran modern, khususnya dalam bidang filsafat dan sains. Dengan tokoh-tokohnya, antara lain: Nikolaus Kopernikus, Yohanes Keple, Galileo-Galilei, Thomas Hobbes, dan Rene Descartes. Sementara di belahan dunia lainnya, terdapat bangsa yang gagal menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, seperti bangsa Indian yang telah mengalami puncak kejayaan hampir seratus tahun di bagian tenggara Amerika Serikat, kemudian mengalami masa kemunduran. Selain itu, kekhalifahan Turki Utsmani yang telah mengalami puncak kejayaan sebagai negara adidaya selama berabad-abad kemudian lenyap di awal abad ke-20, begitu juga dengan menghilangnya negara Jerman Timur, Yugoslavia, dan Uni Soviet akhir-akhir ini.

Dalam skala yang lebih kecil,  di tempat  kita bekerja pun  semangat “pencerahan” semacam gerakan  renaissance tetap diperlukan, untuk menghindari  jebakan stagnasi, kelambanan, dan kebekuan. Namun era renaissance abad ke-21 yang kita harapkan, orang tidak hanya bicara tentang individualitas dan humanisme seperti di masa Kopernikus. Orang tidak hanya menuntut  daya rasio dan intelektualitas dalam mengembangkan peradaban manusia, akan tetapi mengoptimalkan potensinya sebagai manusia secara utuh dan otentik dalam berbagai kehidupan, lebih khususnya lagi dalam dunia pendidikan. Tujuan pendidikan yang hanya menciptakan kemampuan rasio yang hebat,  dengan mengabaikan faktor keutuhan manusia, saat ini dipandang sebagai pendidikan yang buruk. Sehingga seiring dengan hal itu masalah integritas acapkali menjadi tuntutan masa kini. Dalam praktek persaingan keorganisasian bisnis, seringkali integritas – yang dilandasi etika dan moral – harus dikalahkan demi memperoleh manfaat dan keuntungan materialistis.

Integritas merupakan kesadaran terpadu yang diperoleh dari penghayatan mendalam akan suatu proses  yang pernah dialami, melampaui kreatifitas, nilai, intuisi, emosi dan daya analisis-rasional.  Integritas bisa memunculkan gema, medan gaya-energi, kreatifitas, kebanggaan dan dapat diinteraksikan kepada orang lain dalam hubungan individual, kelompok, dan keorganisasian. Integritas merupakan ciri watak manusia yang patuh pada prinsip-prinsip moral dan etika, dalam keadaannya yang menyeluruh, penuh dan utuh. Seorang pemimpin berintegritas adalah pemimpin yang membuat komitmen dan setia kepada komitmen itu sendiri, kendati ia harus menanggung resiko.

Pemimpin yang memiliki integritas akan memancarkan keyakinan pada kita semua, bahwa ia akan berbicara tentang keyakinan dan perasaan yang sesungguhnya, kendati hal ini akan membahayakan diri sendiri dan karirnya. Namun demikian cahaya tanpa kegelapan adalah menjadi tidak lengkap, oleh karena itu seorang pemimpin yang berintegritas dituntut untuk menghadapi, menerima dan memadukan sisi alami dan cemerlang yang ditampilkan  dengan sisi gelapnya yang tersembunyi. Sebagaimana diungkapkan oleh Mahatma Gandhi, “setan paling berbahaya di dunia ini adalah setan yang selalu berada di sekitar hati kita. Disitulah tempat kita harus memerangi mereka”. Gandhi seolah mengajak kita terjun, dengan cara kita masing-masing, ke dalam kancah pertempuran yang diperlukan untuk tumbuh dan belajar.

Dorongan perubahan untuk melakukan inovasi dalam organisasi bisa terjadi baik dari desakan internal maupun eksternal organisasi tersebut, atau muncul secara serempak. Dari sisi internal perubahan bisa saja terjadi  sebagai adanya revisi strategi organisasi oleh manajemen puncak untuk melakukan perubahan organisasi. Perubahan internal juga dapat terjadi oleh desakan  eksternal, seperti bergesernya nilai sosio-kultural dan adanya perubahan tata-cara pandang terhadap hakekat pekerjaan. Perubahan eksternal muncul dari desakan lingkungan umum organisasi, seperti diberlakukannya peraturan baru yang berkenaan dengan aspek produksi, persaingan, politik, ekonomi, hukum, dan IPTEK.

Sejarah telah mengingatkan, selama perjalanan hidup pemimpin-pemimpin besar dan terkemuka telah menghadapi masa-masa yang paling sulit. Berulangkali mereka harus menghadapi rintangan-rintangan yang datang silih berganti, kemudian mereka bertahan ketika mengalami kegagalan dan kemunduran. Cara mereka menangani pengalaman tersebut sekaligus membentuk kepribadian dan kualitas integritas mereka. Kejayaan yang mereka raih, sering kali lahir  dari situasi berbahaya, dan mereka bersikap tidak kenal menyerah meskipun mereka telah mengalami pahitnya kesalahan dan kekalahan.

Bagi umat beragama pelaksanaan puasa di bulan ramadhan mengandung hikmah  penempaan diri, yaitu pengendalian dan penyucian diri, yang apabila mampu dilewati dengan baik, dapat disyukuri dengan perayaan Idul Fitri. Perayaan bukanlah pesta pora, melainkan memancangkan tonggak-baru integritas  pribadi dengan tekad dan niat tulus-suci (fitrah) untuk mendarmabaktikan  dirinya bagi kepentingan masyarakat, bangsa dan negara dengan menanggalkan kepentingan ego kelompok. Semuanya pernah mengalami saat paling menyakitkan dan jatuh-bangun dalam memperjuangan prinsip yang diyakininya, baik berhasil atau gagal, sampai tiba saatnya menyongsong masa keemasan, tidak terkecuali sejarah rekan – rekan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran.

 

Bandung, 12 September 2011

Faisal Afiff