Penerapan Etika Bisnis di Indonesia

faisal afiff
Jakarta, 11 April 2014
Prof. Dr. Faisal Afiff, SE., Spec.Lic.

“Jika perilaku berbisnis kemudian dikaitkan secara kontekstual dengan makna etika, maka mau tak mau, aktivitas bisnis pun akan bermakna holistik sebagai salah satu pengejewantahan perilaku sosial bersama, ke-kita-an, untuk menuju cita-cita kolektif bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat, dimana kesemua pemahaman ini secara tidak langsung mengarah pada terbentuknya perasaan akan tanggung jawab sosial….”

[ezcol_1half]
Ironisnya dalam menempuh perjalanan hidup dan kehidupan ini, jarang di antara kita yang menyadari bahwa kecurangan-kecurangan yang dilihat seseorang atau sekelompok orang semenjak kecil bisa berpengaruh besar mendatangkan pemicu bagi lahirnya kecenderungan dirinya atau kelompoknya untuk melakukan pelanggaran etikal atau bahkan berperilaku kriminal, termasuk menodai etika berbisnis yang akhirnya justru menyengsarakan dan menimbulkan kerugian finansial berskala besar bagi banyak orang.

Untuk lebih memahami hakikat dari etika bisnis ini, ada baiknya kita telusuri dahulu pengertian kedua kata tersebut. Etika, lazim dimaknai sebagai suatu konsepsi nilai-nilai tentang perilaku benar dan salah, atau baik dan buruk, yang diterima secara ke-kami-an maupun ke-kita-an oleh suatu masyarakat dalam kurun waktu tertentu. Dengan demikian, etika akan menuntun kita untuk terus-menerus memberikan penilaian mengenai perilaku diri sendiri dan atau orang lain, apakah termasuk bermoral atau tidak. Disadari ataupun tidak, nilai-nilai etikal yang dianut itu, baik secara langsung ataupun tidak, akan ikut pula membingkai terjalinnya beragam pola dan proses interaksional antar individu atau antar kelompok. Adapun kemunculan etika itu sendiri terbentuk dan bersumber dari perpaduan insight agama, budaya asal, pendidikan keluarga, tren lingkungan pergaulan, tipe pekerjaan, jenjang pendidikan formal, peniruan figur idola, maupun hasil renungan-renungan otodidak dari berbagai sumber bahan bacaan. Sedangkan perihal bisnis itu sendiri, bisa dimaknai sebagai sekumpulan aktivitas manusia dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menghasilkan dan mendistribusikan barang dan/ atau jasa guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Disamping itu, cukup banyak pula akademisi yang mempersepsikan etika sebagai tuntunan yang bersumber dari budaya atau sistem nilai tertentu yang dijadikan pedoman dalam membangun suatu peradaban, kemaslahatan umat, dan pengkondisian tahap-tahap kedewasaan suatu masyarakat. Artinya, jika perilaku berbisnis kemudian dikaitkan secara kontekstual dengan makna etika, maka mau tak mau, aktivitas bisnis pun akan bermakna holistik sebagai salah satu pengejewantahan perilaku sosial bersama, ke-kita-an, untuk menuju cita-cita kolektif bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat, dimana kesemua pemahaman ini secara tidak langsung mengarah pada terbentuknya perasaan akan tanggung jawab sosial. Hal ini tentu saja dimungkinkan demikian, mengingat antara etika dan tanggung jawab sosial pada dasarnya merupakan “dua belah sisi dari satu mata uang yang sama”.

Oleh karenanya, dalam setiap perbincangan akademik mengenai etika bisnis sudah pasti terkandung pula bobot penjabaran etika sosialnya. Bahkan lebih jauh lagi, etika bisnis pada akhirnya merupakan subsistem sosial dari peradaban suatu masyarakat. Kiranya sudah menjadi keniscayaan sejarah, bahwa di setiap lini bisnis apa pun dianjurkan tidak lagi semata-mata memfokuskan dirinya hanya sekedar mencari laba semaksimal mungkin bagi organisasi bisnis, tetapi patut pula memikirkan tujuan-tujuan personal dari para pekerja yang selama ini telah berkarya mendedikasikan dirinya; bahkan dalam konteks yang lebih luas lagi ikut mendarmabaktikan kiprahnya bagi pembangunan masyarakat yang ada di seputar organisai bisnis. Mencermati pemaknaan ini, rasanya tidak ada batasan yang lugas antara etika bisnis dan tanggung jawab sosial.

Sudah pasti, ketika menjalani kehidupan dan peradaban modern yang semakin hari bertambah kompleks, seperti zaman globalisasi sekarang ini, maka keberadaan etika bisnis menjadi teramatlah penting, dikarenakan beberapa hal:

1) Bagi anggota masyarakat global yang sudah maju perekonomiannya, senantiasa akan sangat berharap dan membutuhkan hadirnya kinerja etika bisnis yang tinggi. Saat ini tampak nyata bahwa organisasi bisnis yang memiliki kinerja etika yang tinggi cepat sekali memperoleh dukungan besar dan pembenaran total kiprah bisnisnya dari masyarakat manca negara. Situasi seperti ini mampu menumbuhkan suasana timbal balik yang saling menguntungkan antara dunia bisnis dan masyarakat yang mengayominya, sehingga memungkinkan terjadinya kerjasama, suatu kemitraan sejati yang egaliter, untuk meraih manfaat ekonomis sekaligus sosial dalam setiap aktivitas bisnis yang dilakukannya. Namun, sangat disayangkan sekali, jika mencermati kasus di Indonesia, muncul keanehan tersendiri. Dikarenakan etika bisnis belum menjadi acuan moral kolektif anak bangsa, justru organisasi bisnis dengan kinerja etika bisnis yang tinggi adakalanya malahan tersingkir dan tersungkur, akibat praktik persaingan yang tidak sehat. Masyarakat pun seringkali tidak begitu ambil pusing dengan etika bisnis, misalnya saja dengan tetap membeli barang-barang selundupan ataupun barang-barang bajakan, apalagi pemberlakuan hukum belum juga berdiri kokoh memberikan perlindungannya.

2) Kepatutan bertindak etika, baik pihak organisasi maupun para pekerjanya, untuk menghindari diri dari berbagai kemungkinan terjadinya derita kerugian material ataupun sosietal terhadap kelompok-kelompok pemangku kepentingan dalam masyarakat, seperti para pelanggan, pemasok, perantara, dan pesaing. Contoh paling aktual yang menggegerkan adalah terungkapnya penggunaan bahan pengawet (formalin) untuk mengawetkan makanan.

3) Upaya untuk melindungi terjaganya atmosfir berbisnis dari hadirnya kemungkinan buruk akan “berkembang biaknya virus” perilaku-perilaku nonetikal, baik yang bersumber dari lingkungan internal maupun lingkungan eksternal organisasi. Disinyalir belakangan ini semakin sering saja terjadi kasus-kasus pencurian terhadap barang-barang milik organisasi dikarenakan minimnya informasi atau kurangnya penyuluhan mengenai etika bisnis yang disepakati bersama. Selain itu, masih banyak dijumpai pula kasus-kasus praktik berbisnis curang yang dilakukan oleh para pesaing karena hanya tergiur lamunan akan perolehan laba jangka pendek tanpa sedikit pun memahami keterkaitannya dengan kepentingan jangka panjang demi mengusung ketertiban tatanan etikal masyarakat.
[/ezcol_1half][ezcol_1half_end]
4) Berkembangnya kinerja etikal yang tinggi secara otomatis akan melindungi indvidu yang tengah bekerja di lingkungan bisnis dari situasi kerja yang saling melanggar moralitas, seperti penggunaan barang-barang berbahaya bagi para pekerja maupun bagi konsumen, pembuatan laporan keuangan serba palsu yang bertolak belakang dengan hati nurani, dan juga dari kemungkinan akan ketiadaan infrastruktur yang memenuhi persyaratan kesehatan serta mencegah minimnya standarisasi keselamatan kerja. Biasanya, organisasi-organisasi yang menangani pekerjanya dengan integritas etikal yang tinggi, mampu memompakan produktivitas kerja yang tinggi pula.

5) Pada dasarnya setiap orang ingin bertindak konsisten dengan norma-norma etikal yang dianutnya. Seandainya terdapat pertentangan nilai-nilai etika bisnis, antara dirinya dengan organisasi tempat ia bekerja (sepanjang hari), jika hal demikian berlangsung secara berkepanjangan, akan mendorong timbulnya gangguan emosional (stres) – atau bahkan lebih lanjut dapat menyemai terbentuknya perilaku neurotik (terkungkung bayang-bayang kecemasan fiktif) yang pada tingkatan klinis bisa berubah menjadi depresi (terkungkung suasana kemurungan akut) – yang akan berdampak menurunkan daya kreativitas ataupun tingkat produktivitas seorang pekerja. Oleh karenanya, iklim etikal yang kondusif dan diterapkan secara konsisten pastilah akan memberikan nuansa ketenangan batin dan kenyamanan psikologis bagi pekerja, menjadikan mereka betah bekerja berlama-lama di suatu organisasi.

Setelah komunitas bisnis menyadari betapa pentingnya etika bisnis dijalankan sepenuh hati, maka langkah berikutnya adalah berupaya terus-menerus tanpa kenal lelah meningkatkan kinerja etika bisnisya. Untuk menopang langkah tersebut perlu dikaji terlebih dahulu unsur-unsur pokoknya, sebagai berikut:

1) Apakah terdapat perpaduan harmonis antara penetapan visi, misi, dan tujuan organisasi dengan keberpihakan manajer puncak terhadap nilai-nilai etikal yang berlaku. Manajer adalah indvidu yang memegang peranan penting untuk menentukan apakah perilaku bisnis yang diterapkan pada suatu organisasi bisnis akan berbasis etika atau tidak, dikarenakan ia memiliki wewenang yang cukup di tempat kerjanya itu untuk membangun suasana sportivitas kerja yang berwawasan etikal. Selaku salah satu figur otoritas tentunya para manajer puncak ini memiliki kapasitas mempengaruhi perilaku bawahannya serta mengendalikan dinamika lingkungan kerja yang dipimpinnya.

2) Hadirnya profil ketangguhan karakter dan moralitas pribadi sang manajer berikut para pekerjanya. Dalam kaitan ini, patut diyakini bersama, bahwa ketangguhan karakter pribadi seorang manajer akan memiliki andil kuat dari sisi moralitas untuk merealisir terciptanya standarisasi perilaku etika bisnis yang tinggi. Apalagi jika sumber daya manusia (SDM) yang ada di organisasi itu pun terdiri dari kumpulan individu-individu yang juga memiliki integritas dan moralitas yang tinggi, maka sudah barang tentu akan tejalin hubungan dialektis organisatoris dengan lingkungan eksternal organisasi (masyarakat) yang dipenuhi nuansa etika dan rasa tanggung jawab sosial yang optimal.

3) Kegigihan mengkristalisasikan nilai-nilai aktual seputar kehidupan keseharian yang berkenaan dengan aturan-aturan tradisi, persepsi kolektif masyarakat, dan kebiasaan-kebiasaan rutin praktik bisnis yang lazim berlaku, untuk ‘dibenturkan’ dengan kecenderungan iklim etika saat itu, lalu kemudian diadopsikan secara sistemik ke dalam perwujudan konsep-konsep stratejikal dan taktikal demi capaian membentuk budaya organisasi yang unggul. Budaya organisasi bisnis yang terbentuk tadi akan berfungsi sebagai pemandu langkah bersama – semacam superego kolektif dari keseluruhan aktivitas sumber daya manusia yang ada di lokasi kerja ke arah pencapaian tujuan yang diinginkan, atau ‘benteng moralitas’ untuk menghindari hal-hal yang ditabukan oleh organisasi.

Boleh dikatakan problematika etika bisnis, dari yang berskala kecil hingga berskala besar, tidak saja mencuat di bumi nusantara, tetapi nyatanya di berbagai belahan dunia pun masih sering dijumpai praktik-praktik berbisnis yang mengabaikan tanggung jawab sosial. Dan seiring perjalanan waktu, nampaknya fenomena atau isu-isu mengenai etika bisnis pun berubah-ubah pula tematiknya. Jika sebelumnya, problematika etika bisnis berkutat pada fenomena atau isu-isu seputar diskriminasi ras dan gender, pekerja di bawah umur, kesenjangan upah dan gaji, pengingkaran hak cuti, pemutusan hubungan kerja, jaminan hari tua, objektivitas penilaian prestasi kerja; maka di masa-masa mendatang isu-isu tersebut akan terus bergeser tekanannya ke tema-tema yang menyangkut kelestarian lingkungan hidup, keamanan produk, kesehatan dan keselamatan pekerja, kerahasiaan informasi, pelanggaran hak cipta, kemiskinan global, community development, dan besaran penguasaan kepemilikan yang diperbolehkan.

Di Indonesia sendiri, kecenderungan penerapan etika bisnisnya saat ini – sebagaimana yang sering dilaporkan oleh media massa – memang kian terasa menyedihkan, dikarenakan masih lemahnya moralitas para pengusaha kita, yang dibarengi pula oleh carut-marutnya perundang-undangan dan hilangnya wibawa aparat penegak hukum dikarenakan citranya kerap tercoreng perilaku koruptif. Jika keadaan demikian terus menerus dibiarkan berlarut-larut tanpa terkesan ada upaya serius, konsepsional, dan konsisten untuk segera memperbaikinya, boleh jadi dapat diprediksikan “secepat kilat” hanya menghantar negeri ini terjerembab ulang tanpa jalan pulang, yakni : semakin pendek “tarikan nafas” kehidupan perekonomiannya sekaligus terbuka kemungkinan luas menjadi amat terkucilkan kiprah para pelaku bisnisnya dari ajang pergaulan kaum investor dunia.[/ezcol_1half_end]