Spirit Kepemimpinan

Beberapa tahun menjelang Dinasti Ming berkuasa di Cina, di abad ke tiga sebelum masehi, dikisahkan terdapat seorang ilmuwan siasat klasik bernama Wang Li, yakni seorang pakar yang piawai, canggih, bijak, namun misterius. Datanglah dua anak muda, yang satu bernama Sun Bin ditemani kawan seperguruannya bernama Pang Juan, menghadap Wang Li untuk menimba ilmu siasat perang. Setelah sekian lama menimba ilmu, mereka kemudian berpisah. Pang Juan adalah murid Wang Li yang pertama kali mampu meniti karir. Dengan bakatnya yang sangat cemerlang, Pang Juan berhasil dikaryakan pada keluarga bangsawan Wei, dan disusul tidak lama kemudian, ia sampai kepada puncak karirnya, dianugerahkan menjadi seorang Jenderal. Pang Juan dengan puncak karir yang diraihnya, Ia tetap merasa belum tenang, dan gundah karena memiliki teman seperguruan, Sun Bin, yang kemampuannya juga sangat potensial dan istimewa, terlebih lagi jika ia bekerja dan memposisikan dirinya di pihak musuh. Pang Juan takut bila kemahirannya sebagai ahli siasat perang dikalahkan oleh Sun Bin, dan akhirnya Ia berkomplot untuk melenyapkan rekan seperguruannya tersebut.

Pang Juan mengatur siasat dengan mengundang Sun Bin untuk bertukar fikiran dan hadir di kediaman Wei. Ketika Sun Bin tiba, dengan tangkas Pang Juan menangkapnya atas tuduhan kriminal dan memberikan hukuman siksa yang paling berat di saat itu, yakni dipenggal dan dirusak wajahnya, sebagai bentuk hukuman untuk menjatuhkan martabat seseorang sampai ke tingkat yang paling rendah.

Sun Bin atau Sun Si Lumpuh bukan saja murid yang pintar, namun tempaan Si Guru atas dirinya menjadikan ia seorang yang memiliki kepribadian yang tangguh, kesadaran yang teguh dan mendalam tentang harga dirinya yang unik sebagai manusia. Kendati kondisi dirinya sangat mengenaskan, Ia masih mampu bertahan dan berjuang memenuhi panggilan hidupnya dan telah berhasil menciptakan berbagai strategi peperangan dan cara-cara baru untuk memenangkan pertempuran, baik dalam kancah kehidupan sehari-hari maupun peperangan yang sesungguhnya, yakni dengan prinsip menekan kerusakan harta benda dan pengorbanan nyawa sekecil mungkin.

Ketika Sun Bin mendekam di penjara, ia melakukan pertemuan singkat dan rahasia dengan salah seorang pejabat utusan negara Qi dan dengan cepat membuat sang pejabat terkesan tidak hanya dengan ketabahan dan kemantapannya, tetapi juga dengan kebijakannya yang nyata dalam hal strategi dan ilmu berperang. Sang pejabat merasakan keistimewaan pada diri Sun Bin, bukan hanya pada kekuatan tubuhnya yang dipenuhi bekas luka sayatan, melainkan juga pada keteguhan hati dan gagasan-gagasannya. Sadar akan betapa penting dan berharganya Sun Bin, sang pejabat berhasil menyelundupkan dan melarikan Sun Bin ke negaranya untuk dijadikan sekutu.

Di negara sang sekutu, Sun Bin telah melakukan berbagai upaya, yakni langkah pertama memulihkan semangat, disiplin diri serta mengatasi kelemahan sosok fisiknya, disamping dengan berbagai cara ia belajar memperdalam dan memperluas kemampuan olah batinnya. Dengat bakat dan kemampuannya yang cemerlang dan memikau serta ketajaman intuisinya, Sun Bin kemudian ditunjuk menjadi penasihat militer dan ahli siasat perang jenderal Tian Ji. Bahkan, selang beberapa tahun kemudian, kehebatan strategi Sun Bin telah dilestarikan dalam bentuk karya tulis oleh Liu Ji, seorang perwira sekaligus cendikiawan agung dari dinasti Ming. Sun Bin boleh dijuluki sebagai Sun Tzu kedua, dan memang ia memiliki satu garis keturunan dengan Jenderal Sun Tzu, pengarang buku terkenal “Seni Berperang” yang akhir-akhir ini banyak dijadikan sumber kepustakaan mata ajaran Manajemen Stratejik. Mengacu pada beberapa tulisan kolumnus sebelumnya, pada hakekatnya dalam diri Sun Bin telah terbentuk beberapa aspek kepemimpinan yang mencakup falsafah, energi, spiritualitas, integritas, inovatif dan bahkan karismatik.

Jika kita simak ke depan, pendapat simbolik Sun Bin tentunya dapat diterapkan pada berbagai peristiwa kehidupan manusia yang sarat dengan pertikaian dan persaingan, selain di medan laga. Jika seseorang ingin memulihkan situasi atau kondisi yang terlalu parah, haruslah dipahami bagaimana dan seberapa jauh hal tersebut berpengaruh kepada dirinya. Kita harus mengenal diri sendiri, mengenal tantangan-tantangan yang tengah dihadapi, disamping menyadari posisi dan situasi apapun yang tengah terjadi pada dirinya. Disamping itu, ujar Sun Bin bahwa semua individu atau manusia memiliki hasrat untuk menemukan dan mengembangkan potensinya dalam mengisi dan mencapai tujuan hidup mereka. Menghadapi situasi dan kondisi ini, pertama dan yang paling penting adalah menyadari bakat-bakat yang dimiliki dan menggunakannya secara terpadu dalam memenuhi panggilan jiwa tersebut.

Dari pelajaran Sun Bin di atas, jika kita tarik benang merahnya, bahwa dalam menjalankan roda bisnis dan kehidupan sosial kemasyarakatan dewasa ini, tujuan hidup merupakan sesuatu yang membuat diri sendiri dan orang-orang disekitarnya merasa tergerak untuk mencurahkan segala daya yang dimilikinya. Tujuan penting dalam dunia kerja adalah membangun jenis atau bentuk pekerjaan apa yang kita pilih dan yakini sendiri. Bahkan Kenichi Ohmae mengatakan, “kiat bisnis yang berhasil bukanlah berasal dari analisis yang rumit atau kompleks, melainkan dari proses yang lebih kreatif dan intuitif ketimbang rasional”.

Dalam aspek integritas misalnya, belakangan ini banyak manajer merasa bahwa tindakannya telah didasari oleh integritas, padahal dalam prakteknya mereka masih harus berjuang secara efektif menerapkan integritas di dalam interaksi dan tindakannya. Masih ada anggapan di sebagian kalangan manajer bahwa integritas sama dengan loyalitas buta, atau merahasiakan sesuatu dari orang lain, sementara pihak lain – atau katakanlah pelanggan – malah menjadi korban yang dirugikan. Bahkan, sebagian manajer lain menafsirkannya menjadi pemahaman yang konsisten namun secara kaku dan sempit, yang pada akhirnya dapat berakibat pada kesalahan, kerusakan dan bahkan fatal. Sementara kalangan manajer lainnya lagi menganggap, bahwa integritas adalah identik dengan bersikap jujur, polos, dan bersahaja, atau dengan kata lain mengharamkan segala bentuk kebohongan. Sebenarnya integritas dalam bisnis tidak seperti yang dikemukakan oleh berbagai kalangan manajer seperti di atas, dan konsep integritas dalam bisnis adalah menerima kewenangan dan tanggung jawab secara penuh, berkomunikasi secara jelas dan terbuka, menepati janji, tidak menyimpan rencana tersembunyi, dan keberanian untuk menjaga kehormatan diri sendiri, tim atau regu kerja, atau institusi bisnis, serta secara terus menerus bersikap jujur pada diri sendiri, tidak hanya melulu dalam pikiran, tulisan, atau omongan tetapi juga dalam hati.

Kisah-kisah seseorang seperti halnya Sun Bin acapkali menyentuh dan menggugah hati seseorang secara lebih mendalam, ketimbang para ilmuwan dalam memaparkan berbagai argumen teoritikal secara rasional. Jika direnungkan berulang kali, gaungnya terasa dalam diri manusia, sampai ketingkat renungan yang paling dalam. Melalui kisah-kisah dengan sentuhan emosi semacam itulah pribadi seseorang akan lebih terbentuk secara lebih alami, matang, dan mendalam.

Dalam dunia bisnis, seperti halnya dalam dunia peperangan, manusia sering memiliki kecenderungan memperlakukan musuhnya sebagai bukan manusia. Perasaan seseorang sering tertekan, dan mereka sering menghindari kesempatan untuk berempati kepada lawannya. Berbeda manusia pada umumnya, dengan manusia berkepribadian unik seperti Sun Bin yang mampu melakukan dialog atas landasan kejujuran serta adanya kesediaan untuk memaafkan orang yang bersalah kepadanya, ia berusaha pula memperhatikan segi-segi manusiawi lawannya dengan seksama. Ia menonjolkan kepribadian dan karisma yang bersumber dari kekuatan pribadinya dalam mengajak orang lain bersekutu dan mewujudkan impian-impian untuk membentuk suatu dinasti yang adil, serta rakyatnya makmur dan berpendidikan.

Beberapa tahun terakhir, sejumlah pebisnis terkemuka telah berusaha mengubah cara kepemimpinan mereka dengan melonggarkan keterikatannya pada proses perencanaan dan prediksi-prediksi rasional, dengan lebih memberikan tekanan kepada dialog, pengaruh, antisipasi peluang dan perubahan serta mendukung gagasan atau prakarsa yang inovatif untuk menumbuhkan wewenang dan tanggung jawab, serta cita-cita bersama. Para pebisnis tersebut menyadari bahwa suatu aura energi positif dapat menular, dirasakan, dan bahkan diambil oleh orang lain. Sebagaimana ditemui dalam contoh sehari-hari, jika seseorang dihampiri oleh orang lain dengan wajah murung misalnya, orang tersebut bisa saja secara tiba-tiba merasa iba dan sedih. Begitu pula sebaliknya, jika berdekatan dan berkomunikasi dengan orang yang bersemangat dan meluap-luap, seseorang bisa tertular oleh daya emosi tersebut. Oleh karena itu, sosok pemimpin yang menyadari akan potensi ini, ia akan senantiasa menghemat dan memperbaharui energinya agar tetap tenang dan waspada, suatu situasi atau kondisi emosi yang memberikan “kekebalan” alami terhadap pengaruh suasana hati yang buruk dari orang lain dan bahkan pada gilirannya dapat meringankan beban emosi orang lain. Pengelolaan energi emosi secara alami sering menjadikan seseorang berhasil dalam menjalin hubungan, menyelaraskan tujuan, dan mencari sisi-sisi positif dari setiap hubungan, sehingga ia selaku pemimpin mampu membangun hubungan kemitraan yang konstruktif, saling percaya, dan langgeng. Sejalan dengan hal itu, seorang pemimpin perlu mengenali sisi-sisi “kekuatan-terpendam” dalam kepribadiannya yang meski tidak nampak namun terasa keberadaannya dan kemudian diwujudkan ke dalam ruang kerja sebagai sesuatu yang bermanfaat dan merupakan suatu kekuatan potensial yang sangat besar walaupun kasat-mata.

Zaman yang dihadapi di masa kehidupan Sun Bin secara relatif akan tidak jauh berbeda dengan zaman yang dialami oleh para pemimpin di kawasan bertikai di abad masa kini. Di saat zaman kesejarahan Sun Bin, kelompok-kelompok yang berhasil merebut kekuasaan mengangkat diri sebagai penguasa dan raja-raja; negara-negara kecil diperintah oleh para penguasa yang munafik dan kemudian berkomplot membentuk beragam pasukan untuk merebut kekuasaan yang lebih besar dengan meniru para penguasa terdahulu. Pada akhirnya mereka saling menyerang dan saling menghancurkan, berkomplot dengan kelompok lebih besar untuk melahap kelompok-kelompok yang lebih kecil, menghabiskan tahun demi tahun dengan operasi-operasi persenjataan yang ganas, membasahi ladang-ladang dengan darah. Ayah dengan anak bermusuhan, saudara dengan saudara bertikai dan suami dengan isteri terpisah.

Dalam menoleh kembali tradisi lama dimanapun, terutama yang telah teruji oleh sejarah dalam membangun pembentukan watak dan kepemimpinan, tujuan hidup selalu digambarkan sebagai sesuatu yang memiliki makna yang paling dalam; terkait dengan sesuatu yang berhubungan dengan “asal”, dengan “rumah sejati” tempat kita bekerja dan hidup. Mendapatkan rumah yang demikian memerlukan tekad yang kuat dan olah batin yang serius. Banyak pemimpin dan pebisnis terkemuka dan ternama yang telah memperjuangkan masyarakat, bangsa, dan negaranya, dan nyatanya berhasil.

Boleh jadi hidup kita seperti teka-teki dengan bebagai petunjuk yang tidak lengkap, dan sering kehilangan “kebahagiaan mendalam” dan akal sehat. Manusia bekerja dan diselingi dengan tidur, mencari uang dan kemudian membelanjakannya, mengalami suka dan duka, meski terampil dalam bekerja, namun tetap merasakan kekosongan batiniah baik sebagai individu ataupun keterikatannya dalam organisasi. Dalam hidup atau dalam pekerjaan tidak ada istilah terlambat untuk menemukan panggilan mulia, dan senantiasa menyelesaikan berbagai pekerjaan yang paling bernilai bagi diri kita, untuk menjadi sejalan dengan tujuan yang telah dicanangkannya. Last but not least, marilah kita sama-sama merenungkan pertanyaan mendasar yang dilontarkan Joseph Campbell dalam salah satu tulisannya, “Anda mungkin sudah berhasil dalam hidup, tetapi coba tanyakan kepada diri sendiri – hidup macam apa yang Anda jalani?

 

Jakarta, 3 November 2011
Faisal Afiff

error: Content is protected !!